Selasa, 20 Juli 2010

Harapan itu benar-benar telah kabur...

Gan ane mau ngelanjutin cerita ane yang dulu pernah gagal ikut tes di UMB 2010. Nah kata ane dulu kan, masih ada kesempatan lagi buat keluar dari kampus ane yang sekarang dan melanjutkan studi ane di FK kan. Ternyata itu semua ga ada yang berlaku buat ane gan.

Ceritanya, ane udah gagal UMB, otomatis ane mantepin buat persiapan SNMPTN tanggal 16 Juni 2010\. Yaudah ane belajar serius buat itu. Pikiiran ane, ane kagak bakalan gagal tes lagi di SNMPTN 2010 itu. Otomatis ane niat banget donk. Gimana lagi ane udah terlanjur ga suka sama kampus ane yang sekarang. Bukan karena lingkungan atau temen2 ane di kampus itu, tapi ane dipaksa kudu belajar hal-hal yang kagak ane minati gan. Dada kayaknya sesek banget buat ngejalaninnya.

Yaudah hari-hari setelah UMB pun berjalan seperti biasa. Ane pun juga telah cukup siap buat ngadepin soal-soal UMB. Dan bulan Juni pun datang, otomatis UMB semakin dekat. Tepat tanggal 11 Juni, ane ngerasa ane kagak enak badan. waktu itu ane habis dari beli tiket buat pulang tanggal 14 Juni ke Jogja. Ane pulang beli tiket jam 8 malam lebih. Badan ane udah ga enak banget rasanya. Yaudah ane numpang di kosan Ijul yang lebih deket dari Stasiun UI. Ternyata sakit ane bukan semakin mendingan, tapi malah semakin parah. Tiga hari ane di kos temen ane itu dalam keadaan lemas, sakit, pusing dan segala macam yang mengikutinya. Temen ane juga udah beliin segala sesuatu buat nyelametin ane. Tapi sama sekali ga ngasih pengaruh apa2.
Yaudah hari Minggu sore ane tanggal 14 Juni ane nelpon keluarga ane. Eh ga taunya mereka panik. Mereka nyuruh Om ane yang tinggalnya ga jaug dari kos buat jemput ane. Ane langsung deh dijemput dan dimasukin ke rumah sakit. Tiga hari ane dirawat di rumah sakit gan. Terus ane dijemput ma mama sama keluarga ane yang lain buat dibawa pulang ke rumah. Dilanjutin ane dirawat di rumah sakit daerah ane seminggu.
Agan-agan pada ngerti ga, ane kehilangan kesempatan buat SNMPTN setelah ane kehilangan kesempatan buat UMB. Miris banget rasanya, harapan buat keluar ga bisa kelaksana. Yang pada akhirnya ane harus tinggal di kampus ane yang sekarang dan merelakan harapan ane semakin kabur.

Rabu, 14 Juli 2010

Harapan Indonesia Masih Terlalu Jauh

Photobucket

Photobucket
Piala Dunia baru saja berakhir dengan Spanyol keluar menjadi sang pemenang. Gegap gempita, tawa riang menemani insan pecinta bola satu bulan teakhir ini. Berbagai kepentingan pun muncul disini. Dari yang memang suka pertandingan bola, para penggila taruhan, samapi yang hanya ikut meramaikan acara dengan ikutan nonton bareng. Semua itu hanya ada satu bulan terakhir ini, dan kita harus menunggu lagi 4 tahun yang akan datang.
Jika kita melihat hajatan luar biasa itu, saya sering berkhayal kapan Indonesia bisa ikut ajang bergengsi itu. Pingin rasanya merasakan menjadi supporter para pemain kita yang memakai baju garuda bertanding bersama bintang-bintang lapangan hijau seantero jagat raya ini. Kalau kemarin di Afrika, andaikan Indonesia ikut, pingin rasanya ikut bersorak-sorai , meniup vuvuzuela sekuat-kuatnya demi pasukan Garuda. Tapi itu menjadi sebuah khayalan belaka. Tapi saya juga masih bingung, ada seseorang yang mengatakan Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia 2018. Pas ditanya alasannya , dia mengatakan karena negara asia yang masuk ke 16 besar sudah 2, Jepang dan Korea Selatan. Hanya dengan alasan itu. Menurut saya itu sebuah pemikiran yang terlalu berharap pada bangsa kita.

Terlalu berat memang rasanya bila mengatakan harapan dunia sepakbola Indonesia untuk bertarung ke kancah Internasional masih sangat jauh. Di satu sisi ingin merasakan gegap gempita menjadi negara yang ikut dalam ajang tersebut, di satu sisi kemampuan dari para insan sepakbola negeri yang belum atau sama sekali belum siap untuk maju ke babak tersebut. Tapi memang sepertinya pernyataan itu benar. Kita lihat saja gaya sepakbola anak negeri yang masih terlalu jauh di bawah negara yang notabene menjadi anak bawang di kancah Internasional. Bagaimana nanti bila Indonesia melawan negara yang bertabur bintang. Perlu dicoba mungkin ya, kalau Indonesia bertarung melawan Spanyol. Butuh pertimbangan lain kayaknya kalau yang ini. Stadion mana yang mau dipakai, dana untuk memanggilnya sudah habis dikorupsi pejabat. Wah….bener-bener susah buat maju kayaknya.
Pertanyaan tentang kapan Indonesia akan menuai babak baru dalam kancah dunia pun terbersit di pikiran saya ? Setidak-tidaknya usaha untuk terus maju itu ada. Tapi harapan itu lenyap kembali, setelah tahu bahwa ada sedikit keganjalan di kepengurusan PSSI kita. Di dalam media massa disebutkan bahwa Presiden FIFA telah memberikan hadiah kepada seluruh federasi sepakbola di seluruh dunia ( termasuk PSSI di Indonesia ) dengan jumlah yang besar ( mencapai milyaran ) setelah Presiden FIFA menyatakan akan menjadi Presiden FIFA kembali di tahun berikutnya. Hal itu dinyatakan sebelum ajang pildun berlangsung. Lalu bagaimana kelanjutan aliran dana tersebut ? Akankah menjadi penerus aliran dana Gayus Tambunan ?
Perlu diketahui teman-teman semuanya, kabarnya setelah mendapatkan dan tersebut, pengurus PSSI bersama-sama terbang ke Afrika Selatan untuk menyaksikan langsung pertandingan semifinal dan final Piala Dunia 2010.Sebuah keputusan yang sangat bodoh. Kalau kita sedikit memutar otak , apa bedanya nonton di TV atau layar lebar dengan nonton langsung disana. Tapi yang disorot disini bukan dari kesamaannya atau bangganya melihat langsung, tapi kemana tanggung jawab para pengurus terhadap kenierjanya selama ini. Seudahkah menunjukkan adanya kemajuan? Dana yang mereka gunakan seharusnya bisa untuk mendanai segala yang berhubungan dengan sepakbola kita. Pada faktanya malah dibuat berhuru-hara sendiri ke Afrika. Ironi yang membuat pikiran saya mengkhayal lagi, bagaimana kalau 2012 dunia ini benar-benar kiamat. Harapan mutlak musnah. Kayaknya para pengurus PSSI semuanya masa bodoh atau boleh dikatakan tidak punya target untuk sepakbola. Take it slow, “alon-alon asal klakon ( pelan-pelan asal kesampaian ) “.Atau mungkin memang jiwa bangsa ini seperti itu ? Kalau benar memang seperti itu, berarti PSSI tidak salah. Yang salah mengapa saya dilahirkan di negeri ini.
Sudahlah, semuanya biarkan berjalan apa adanya. Yang terpenting semangat Piala Dunia harus tetap ada. Buat PSSI jangan ngurusin kesenangan sendiri, berpikirlah jauh ke depan.


Search